Opinion, Personal Literature

Dilan – Milea 2018 : Suara dariku

Hey! I’m back. And now I’m about to write about the reaction or opinion about certain things. Jadi, saat ini aku mau menceritakan tentang Dilan, Milea, dan Pidi Baiq. Mainstream? Nope! Karena sebetulnya mau share sejak lama tapi terpending. Menunggu satu minggu rasa yang berat untuk move on dari situasi cerita Dilan dalam novel Surayahhh Pidi Baiq.

Untuk kategori novel, sosok Dilan adalah sosok ketiga yang mampu membuatku jatuh hati seketika. Bahkan bisa aku merindukannya, tersipu malu hanya dengan mengingat ulahnya di dalam novel yang Ayah buat. Aku menghabiskan waktu dua hari untuk menghabiskan Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Kalian tahu bagaimana akhirnya ?
Yep! Aku menangis pilu membacanya! Sobbed so Hard 😦

Ketika menonton filmnya, boleh aku katakan, film Dilan bagiku salah satu visualisasi novel yang paling aku suka. Perubahan, pengurangan adegan pasti ada, tetapi masih dalam tahap yang bagiku cukup acceptable.  Karakter Dilan yang diperankan oleh Iqbaal terasa pas bagiku yang mendadak serasa berusia 17 tahun lagi. Aku jadi menempatkan sosok Dilan dalam bayanganku dengan wajah Iqbaal. Sama seperti sosok Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta yang diperankan Fedi Nuril, ataupun Cakra Garnida dalam Sabtu Bersama Bapak yang diperankan Deva Mahenra. Membayangkan mereka memainkan setiap bagian kisah dalam novel sesuai dengan visual dalam benakku. Dan bebas jatuh hati pada mereka yang membuatku merasa bebas memiliki mereka dan sulit move on dari mereka. Hehe 😉

Baiklah, kembali pada kisah Dilan. Aku akan mulai membagi kepiluanku saat membaca 3 novel karya Ayah tentang Dilan dan Milea. Jujur, akupun berspekulasi bahwa Ayah adalah Pidi Baiq. Haha, Ayah kan memang Pidi Baiq. Ini tidak pilu sama sekali. Maksudku, Ayah Pidi Baiq adalah Dilan itu sendiri. Dan yang sedikit membuatku bingung adalah sosok Milea. Aku tidak bisa memastikan apakah sosok Milea Adnan yang ada dalam Twitter memang betul-betul Milea. Maksudku kan, kita tidak tahu apakah memang namanya betul Milea Adnan Hussain, atau memang ia adalah sosok sebenarnya Milea yang asli (meskipun nama aslinya bukan Milea), atau mungkinkan Milea yang sebenarnya adalah Ibu Rosi, istri dari Ayah Pidi Baiq? Atau memang betul ia adalah Milea? Mengingat bahwa dalam buku Milea : Suara dari Dilan, dikisahkan bahwa Dilan dihampiri oleh Ayah Pidi Baiq untuk membahas tentang Suara dari Dilan ini. Aku sempat berpikir bahwa ini bisa jadi seolah Ayah yang sekarang mengunjungi Ayah yang dulu, yaitiu sosok Dilan 1990-1991, atau berdiskusi dengan diri Ayah yang lain yang memang Dilan, untuk menuliskan kisah Suara dari Dilan untuk bisa dijadikan pelajaran bagi khalayak. Dan bahwa Milea dikabarkan menuliskan 60% cerita dalam Dilan 1990 dan Dilan 1991. Well, so many confusing yet interest about this lho!

Semua orang yang membaca dan bukan menjadi bagian kisah nyata dari sosok nyata Dilan-Milea, tentu penasaran dan penuh dengan beragam dugaan yang terbesit dalam benak.  Sementara mereka yang terlibat langsung …. Luar biasa! Kalian salah satu dari kenangan terbaik karena kenangan kalian menjadi lintas generasi dan ini adalah salah satu bentuk awal imortalitas.  Karena keabadian itu terjadi karena seseorang terus menyambung api dan cahaya kehidupan kita, mengenang kita, mengamalkan kebaikan yang pernah kita ajarkan.

Baiklah dimana letak pilunya?
Dilan dan Milea putus! Serius, sumpah aku menangis tersedu-sedu ketika membaca kisah Dilan 1991 dan disusul ketika membaca Milea : Suara dari Dilan. I’m not trying to do spoiler ya. I just want to write my opinion. Dan putus untuk sesuatu yang menurutku, maaf, kecerobohan. Tetapi dengan pernah melakukan kesalahan setidaknya kita belajar melakukan sesuatu dengan lebih benar, dan selalu ada alasan baik dari apapun kejadian pilu yang kita alami, meskipun kita menyadarinya belakangan.

Pada awalnya aku kecewa sekali mereka putus, aku rasanya ingin merebut posisi Milea saat itu, biar aku saja yang bertindak dan bukan dia, biar aku saja yang bersama Dilan dan bukan dia. Aku marah ketika Milea memutuskan Dilan sepihak, tetapi juga aku tenggelam dalam kisah putusnya Milea-Dilan kala itu, seolah aku menyayangkan kejadian yang serba ‘tidak pas’ yang membuat Dilan terpojok. Dan aku tahu, ketika Dilan diam, aku pun merasa ia sudah cukup dengan semua itu. Ketika sekali kata putus terucap ya sudah, tidak usah dibahas lagi. Seolah seperti itu walaupun aku tahu tidak begitu. Saat membacanya hatiku perih, terluka, seolah beban mereka langsung ada di hatiku. Berat hati, rasa rindu, pilu, pedih, kelu, semuanya bercampur aduk dan aku hanya bisa menangis. Lebih menangis kala mengingat hal ini berdasarkan kisah nyata. Kalau benar begitu rasanya, aku semakin pilu. Itu sebabnya aku butuh waktu untuk bangkit dari rasa sakit ini. Berlebihan, ya? Maaf deh, aku memang over empathy. Kalau jadi counselor, aku pasti berpotensi terkena transference.

And here we go … draft ini tersimpan rapi setahun. Sejak rilis film Dilan 1990 sampai akhirnya sekarang Dilan 1991 sudah rilis di bioskop-bioskop. haha. Gila, isn’t it?

Lanjut ke post tentang Milea yaa…

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s