Personal Literature

90-an: Memori yang Terpanggil Kembali

WhatsApp Image 2017-03-19 at 17.31.46

Apa yang kamu lakukan kalau kamu bertemu lagi dengan keluarga sahabatmu sejak kamu menginjak sekolah dasar?

Aku? Menahan tangis!

Namanya adalah Rintis Swastika. Sahabatku sejak aku kecil. Boleh dibilang dulu aku dan temanku yang lain berebutan untuk bersahabat dengannya – lebih tepatnya memonopoli persahabatan! Lucunya bahkan kami sempat berselisih hanya untuk punya quality time dengannya. Aku – sepanjang ingatanku selalu mengalah sih hehe

Bukan hanya dengan Rintis saja aku dekat. Tetapi juga dengan keluarganya. Mereka berkesan sekali bagiku. Dan petemuan hari Minggu lalu membuatku merasa bahwa aku pun memiliki kesan bagi mereka. Mereka memanggil kembali memori yang tersimpan rapi. Dan memori yang aku hampir lupakan. Memori bagaimana aku dulu, apa yang aku lakukan dulu, dan mimpi apa yang dulu aku selalu jawab ketika aku ditanya “apa cita-citamu?”

Bapak Paimin Sunarto dan Ibu Jamilah Maya Sonata. Ketika aku SD mereka sudah memiliku tiga orang anak perempuan. Yang pertama bernama Restu, kedua Rintis – sahabatku, dan yang bungsu adalah Eris. Dan aku juga baru ketahui kemarin pada akhirnya mereka memiliki anak laki-laki yang bernama Raffa. Maka berakhirlah masa bungsu Eris kala itu. Saat ini Raffa sudah menginjak kelas 6 SD.

Dulu ketika aku SD, hampir setiap hari aku bermain ke rumahnya. Banyak momen yang aku lalui bersama Rintis. Aku masih ingat beberapa kenangan yang membuatku mengulum senyum dan terkekeh. Aku ingat pernah duduk di ruang tamu rumahnya dan kami berdua berkhayal bahwa kami akan menjadi astronot ketika dewasa nanti (well, now we proved it! It’s really just a beautiful daydreaming haha). Aku pernah praktik solat dzuhur bersamanya di ruang atas rumahnya dekat tangga kayu. Lalu aku membaca doa iftitaf di setiap rakaat, sementara Rintis mengingatkanku setelah salam. Doa iftitah itu hanya dibaca pada rakaat pertama saja.

Lalu aku pernah bersepeda dengannya. Lalu kami berandai-andai jika nanti menjadi presiden, apa yang akan kami lakukan. Rintis mengatakan ia akan memberantas korupsi dan narkoba. Sementara aku spontan mengatakan akan membasmi layang-layang karena benangnya kusut di rantai sepedaku sehingga aku harus menuntun sepedaku. Rintis hanya tertawa dan bilang kalau itu terjadi kasihan sekali penjual layangan. Aku langsung spontan menjawab, oke, kalau gitu aku mau buat sekolahan gratis untuk anak-anak yang kurang mampu”

Kami tertawa seraya mengucap “aamiin”. Entah kapan “aamiin” itu akan berbuah nyata. Yang ku tahu, kelak doa itu akan menjadi nyata. Entah kapan.

Ketika hujan hari, aku sangat ingat ketika orang tua Rintis mengajakku pergi makan bakan bakso dengan mobil, lalu aku diantar pulang setelahnya. Aku ingat saat aku main karet berdua dengan Rintis, ia terpeleset lalu jatuh dan dadanya sakit terantuk besi pagar. Ia menangis, aku panik, kakaknya – Restu langsung keluar menanyakan adiknya yang menangis sesak. Jujur, aku masih ingat adegan itu.

Minggu, 19 Maret 2017. Untuk pertama kalinya setelah aku lulus sekolah dasar aku kembali bertemu keluarga Rintis. Dan bukan hanya aku yang bahagia, namun mereka seperti keluarga yang benar-benar lama tidak bertemu. Saat itu dikatakanlah padaku bahwa aku dulu adalah anak yang centil, hampir setiap hari main ke rumah. Ketika aku menuliskan ini aku menahan air mata yang hendak mengalir. Wajahku memanas. Mengingat ayah dan ibunya yang bertanya padaku :

“Inget ga dulu waktu ditanya cita-citanya apa? Kamu jawab ‘Wartawan’!”,
“Ini Putri yang dulu suka menulis puisi ya? Ingat dulu kamu kasih puisi ke Ibu? Ibu masih simpan puisinya, lho. Masih suka nulis sekarang?”

Aku langsung ingat almarhum bapak yang juga seorang wartawan dulu. Aku dulu selalu mencontoh beliau. Dan aku langsung merasa beragam perasaan campur aduk. Bahwa, pilihan hidup memang tidak boleh sembarangan. Andai dulu mengikuti keinginan itu, tetapi sayangnya dulu aku yang kecil sibuk dengan hal lain.

Aku penasaran rasanya. Puisi seperti apa yang aku berikan untuk ibunya Rintis. Hehe

Dan akhirnya aku menetapkan hati dan pikiranku. Bahwa, terkadang semua pilihan keliru yang kita ambil kelak akan membawa kita pada tempat yang benar. Apapun itu. Masa kecil, remaja hingga masa dewasa saat ini, rasanya kita terkadang bisa melakukan justifikasi akan apa yang sudah kita lakukan. Keputusan yang akan kita ambil ke depannya harus lebih baik.

Merantaulah maka kau akan mendapatkan pengganti kerabat dan kawan. Aku memang tidak merantau jauh ke luar pulau untuk mendapatkannya. Ini adalah salah satunya. Rintis adalah salah satu sahabat dan keluarga di luar keluarga inti tercintaku. Dan sekian keluarga yang ada dalam perjalanan hidupku.

Semoga persahatanku dan Rintis akan tetap berlangsung sampai akhir hayat, bahkan masa setelahnya.

 

leo tolstoy

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s